KEGIATAN PEMBELAJARAN
:
PERAWATAN
BERKALA SISTEM PENGAPIAN
URAIAN
MATERI [Download]
1. Cara kerja system pengapian baterai
Pada saat mesin atau motor hidup, poros engkol dan poros kam distributor berputar yang mengakibatkan kam distributor tidak menekan tumit ebonit platina sehingga platina menutup dan
selanjutnya kam distributor
menekan
tumit ebonit platina sehingga platina
membuka. Peristiwa tersebut akan berulang-ulang selama mesin/motor hidup.
a. Saat kunci kontak ON dan platina menutup
Saat kunci
kontak (ON) dan
platina menutup (kam
pada
poros distributor tidak menekan tumit ebonit platina), maka terjadi rangkaian tertutup pada
sirkuit/rangkaian
primer, sehingga arus akan
mengalir mulai
dari
plus baterai – kunci kontak – kumparan primer koil – platina – massa.
Dengan mengalirnya arus primer, maka terjadi
pembentukan medan magnet pada inti
koil (yang sebelumnya tidak ada
medan magnet). Akibat perubahan medan magnet tersebut (dari tidak ada
menjadi ada magnet), maka terjadi tegangan induksi diri pada rangkaian primer dan tegangan induksi pada rangkaian sekunder. Oleh karena tegangan induksi pada rangkaian
sekunder rendah, maka tidak terjadi
loncatan bunga api
pada busi.

b. Saat kunci kontak ON dan platina membuka
Kunci kontak masih tetap On, mesin/motor tetap berputar, dan demikian juga kam poros distributor berputar, selanjutnya kam menekan tumit ebonit platina sehingga
platina membuka. Dengan membukanya platina, maka aliran arus primer terputus (dari kondisi sebelumnya arus mengalir/ platina menutup), sehingga terjadi perubahan
medan
magnet
atau medan magnet
jatuh karena adanya perubahan
dari ada magnet (saat platina tertutup) menjadi
tidak ada magnet (saat platina terbuka).

Dengan
terjadinya perubahan medan
magnet yang cepat dan sesaat pada koil tersebut, maka
akan
timbul tegangan induksi diri
sesaat pada rangkaian
primer sekitar 400 Volt dan timbul tegangan induksi yang tinggi
sesaat pada rangkaian sekunder sekitar 5.000 s.d 25.000 Volt. Tegangan induksi diri pada rangkaian
primer akan terserap oleh kondensator dan tegangan induksi yang tinggi pada sirkuit sekunder akan menghasilkan loncatan bunga api
di antara elektroda
busi. Jadi loncatan bunga api listrik sesaat pada celah
elektroda
busi terjadi
saat platina
mulai membuka.
2. Platina
Platina berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan aliran arus primer agar
terjadi induksi tegangan tinggi
pada sirkuit sekunder.

Nama Komponen :
1.
|
Kam
distributor
|
6.
|
Sekrup pengikat
|
2.
|
Kontak tetap
( wolfram
)
|
7.
|
Tumit ebonit
|
3.
|
Kontak lepas ( wolfram )
|
8.
|
Kabel
( dari koil
)
|
4.
|
Pegas platina
|
9.
|
Alur
penyetel celah
|
5.
|
Lengan platina
|
a. Sudut Pengapian
Sudut putar kam distributor mulai dari saat platina membuka (A) sampai
platina mulai membuka
pada tonjolan kam berikutnya (C).
Sudut Pengapian = 360/Z ; Z = Jumlah silinder
Untuk motor 4 silinder :
A = 360/4 = 90 derajat

b. Sudut Dwell atau sudut tutup
A –
B = Sudut buka platina; B – C = Sudut
tutup platina.
Sudut tutup platina
(k.p) dinamakan sudut dwell.

Kesimpulan :
Sudut dwell atau sudut tutup adalah sudut putar
kam distributor mulai
dari saat
platina mulai menutup (B) sampai
dengan
platina mulai membuka (C) pada tonjolan kam berikutnya, dalam satuan derajat poros kam (o p.k).

c. Hubungan
Sudut Dwell
Dengan Celah Platina
Jika celah platina kecil,
maka : sudut
buka kecil
() dan sudut Dwell
besar ( )
Jika celah platina besar, maka : sudut buka besar () dan
sudut Dwell
kecil ( )

d. Besar Sudut Dwell dan Kemampuan Pengapian
Kemampuan pengapian ditentukan oleh kuat arus primer. Untuk mencapai arus
primer maksimum, diperlukan waktu pemutusan platina yang cukup, dan
hal itu sangat
ditentukan oleh waktu menutup platina yang
cukup.
1) Sudut dwell terlalu
kecil

Dengan sudut dwell terlalu kecil, maka
waktu penutupan
platina
pendek, akibatnya arus primer
tidak mencapai maksimum yang seharusnya
dan kemampuan pengapian menjadi kurang (bunga api
pada busi lemah).
2) Sudut dwell terlalu
besar
![]() |
Dengan sudut dwel terlalu besar, maka waktu penutupan platina
lama, akibatnya arus primer dapat mencapai maksimum yang seharusnya dan
kemampuan pengapian menjadi baik (bunga api pada busi kuat).
Kelemahannya
karena waktu
mengalir
arus
terlalu
lama,
maka platina menjadi panas dan
platina cepat aus.
3. Kondensator
Pada sistem pengapian, kondensator dihubungkan secara paralel dengan platina.
![]() |
a.
Cara Kerja
Pada saat platina mulai membuka, arus induksi diri yang terjadi diserap oleh kondensator, akibatnya
:
1)
Tidak terjadi
loncatan bunga api pada platina.
2)
Arus primer hilang
dengan cepat, maka medan magnet
jatuh dengan cepat.
3)
Perubahan medan magnet yang cepat mengakibatkan tegangan induksi pada sirkuit sekunder tinggi,
sehingga
bunga api
pada busi kuat.
Kondensator terdiri dari dua plat penghantar yang terpisah oleh foli isolator. Jika
kedua plat bersinggungan dengan tegangan listrik, maka plat negatif akan terisi
elektron-elektron.
Gambar : Pengisian
Kondensator
Jika sumber tegangan/baterai dilepas, elektron-elektron masih tetap tersimpan pada plat
kondensator,
berarti ada penyimpanan muatan listrik.

Gambar Penyimpanan Muatan listrik
Jika kedua penghantar yang berisi muatan listrik tersebut dihubungkan, maka akan
terjadi
penyeimbangan
arus, lampu
akan menyala sesaat
lalu
padam
karena arus sudah seimbang.

Gambar
Pengosongan Kondensator
b.
Kondensator pada Sistem Pengapian
Pada sistem pengapian konvensional pada kendaraan, umumnya menggunakan kondensator model gulung.

Nama Komponen
:
1.
|
Dua
foli aluminium
|
|
2.
|
Dua
foli isolator
|
|
3.
|
Rumah sambungan massa
|
|
4.
|
Kabel
sambungan positif
|
4. Busi

Nama
Komponen :
1.
|
Terminal
|
7. Elektrode massa (paduan nikel)
|
2.
|
Rumah busi
|
8. Cincin perapat
|
3.
|
Isolator
|
9. Celah elektrode
|
4.
|
Elektrode ( paduan nikel )
|
10. Baut sambungan
|
5.
|
Perintang rambatan arus
|
11. Cincin
perapat
|
6.
|
Rongga
pemanas
|
12. Penghantar
|
a. Nilai Panas
Nilai panas busi adalah suatu indeks yang menunjukkan jumlah panas yang dapat dipindahkan oleh busi.
Kemampuan busi menyerap panas dari pembakaran dan memindahkan panas
ke air pendingin yang ada pada rongga-rongga kepala silinder tergantung pada bentuk kaki isolator
/ luas permukaan isolator
busi.
Busi yang dipasang pada motor / engine nilai panasnya harus sesuai dengan kondisi kerja / operasi mesin.
a) Busi Panas
Luas permukaan kaki isolator besar, sehingga banyak menyerap panas. Lintasan
pemindahan panas pada daerah kaki isolator panjang, akibatnya pemindahan panas lambat.
b) Busi Dingin
Luas permukaan kaki isolator kecil, sehingga sedikit menyerap panas. Lintasan
pemindahan panas pada
pada daerah kaki isolator
pendek, akibatnya
cepat memindahkan panas.

b. Kondisi Muka Busi
Kondisi muka busi dapat menunjukkan kondisi operasi mesin dan keadaan busi, seperti terlihat pada gambar berikut ini.
![]() |
1. Normal
Isolator berwarna
kuning atau coklat muda. Puncak isolator bersih, permukaan
rumah isolator kotor
berwarna coklat
muda atau abu – abu , artinya :
·
Kondisi kerja mesin baik
·
Pemakaian busi dengan nilai panas yang tepat
|
![]() |
2. Terbakar
Elektroda terbakar, pada permukaan kaki isolator
ada partikel-partikel kecil mengkilat yang menempel.
Isolator
berwarna putih
atau kuning
Penyebab :
·
Nilai oktan bensin terlalu
rendah
·
Campuran terlalu kurus, knoking ( detonasi )
·
Saat pengapian terlalu
awal
·
Tipe busi yang terlalu panas
|
![]() |
3. Berkerak karena oli
Kaki isolator
dan elektroda sangat kotor. Warna kotoran
coklat.
Penyebab :
·
Cincin
torak aus / oli bocor
·
Penghantar katup
aus / oli bocor
·
Pengisapan oli melalui sistem ventilasi
karter
|
![]() |
4. Berkerak karbon / jelaga
Kaki isolator, elektroda-elektroda, rumah busi berkerak jelaga.
Penyebab :
·
Campuran bahan baker – udara
terlalu kaya
·
Tipe busi yang terlalu dingin
|
![]() |
5. Isolator
retak
Bunga api dapat meloncat dari
isolator langsung ke massa, akibatnya bunga api diantara celah busi lemah
atau tidak ada.
Penyebab :
·
Jatuh
·
Kelemahan
bahan
|







Tidak ada komentar:
Posting Komentar